Minimalisir Dampak Pandemi, Dosen UTU Lakukan Sharing IPTEK Terkait Pemanfaatan Pakan Alternatif
  • UTU News
  • 27. 07. 2021
  • 0
  • 877

MEULABOH - UTU . Masyarakat dinilai perlu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) secara optimal di masa pandemi ini. Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih setahun ini membuat hampir seluruh aktivitas masyarakat dilakukan dari rumah, mulai dari bekerja, belajar, hingga kegiatan-kegiatan yang lainnya. Dukungan dan pemanfaatan Iptek dapat membuat masyarakat beraktivitas secara optimal dari rumah.

Guna mendorong masyarakat memanfaatkan Iptek selama Pandemi Covid-19, tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Teuku Umar menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat. "Tujuan untuk memberikan sharing knowledge kepada masyarakat agar dapat mengoptimalisasikan Iptek di masa Pandemi Covid-19," ujar Ketua Tim Kegiatan Pengabdian Masyarakat, Afrizal Hendri, M.Si dalam keterangannya kepada utu.ac.id, Senin (26/7).

Sharing knowledge tersebut dihelat dalam bentuk bimbingan teknis (BIMTEK) tentang pemanfaatan pakan ikan khususnya pakan alternatif (pakan tambahan) untuk komoditi lele sangkuriang termasuk aplikasi pakan tambahan tersebut.

Adapun peserta dari kegiatan ini adalah kelompok pembudidaya ikan lele di Gampong Ujong Drien yang berjumlah 16 orang. Kegiatan yang berlangsung 24-25 Juli 2021 itu bertujuan untuk meningkatkan hard skill kelompok sehingga nantinya akan memberikan dampak positif terhadap profitabilitas usaha pembesaran ikan lele.

"Pemanfaatan Iptek juga sebagai salah satu upaya untuk melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 karena banyak aplikasi yang memberikan kemudahan dalam hal tracing," ungkap Hendri.

Ada sejumlah materi yang disampaikan pada kegiatan Pengabdian Masyarakat tersebut. Menurut Hendri, topik yang disampaikan antara lain, terkait peluang pemanfaatan pakan tambahan, mengingat harga pakan komersil (pellet komersil) yang terus mengalami kenaikan hingga pertengahan tahun 2021 ini, secara nyata telah berkontribusi terhadap kecilnya margin usaha pembudidaya ikan lele, disisi lain harga ikan lele konsumsi tidak mengalami kenaikan (cenderung stabil, Rp.21.000-22.000/kg).

"Oleh karena itulah, perlunya dilakukan kegiatan pengabdian berbasis riset (PBR) ini, untuk menjangkau stakeholder perikanan budidaya." Lanjut Hendri

Lanjutnya, ditengah kegalauan kelompok pembudidaya, akibat cukup mahalnya harga pakan komersil, maka tim pengabdian menawarkan solusi yang murah, mudah, dan tersedia di Aceh Barat yaitu aplikasi pakan tambahan berupa ikan runcah (trash fish).

Murah karena harganya sangat terjangkau (Rp.4000-5000/kg) di tempat pelelangan ikan (TPI), mudah karena bisa diberikan secara langsung ke ikan lele atau dicincang/digiling dengan mesin dan ikan runcah ini tersedia sepanjang tahun di Aceh Barat sehingga ada jaminan kontinuitasnya.

Aplikasi pakan tambahan mampu meningkatkan nilai margin usaha pembudidaya ikan lele (Rp.5000-7000/kg) dibandingkan dengan full pemberian pakan komersil (Rp.2000-3000/kg).

"Secara umum nilai nutrien yang terkandung dalam ikan runcah berkisar 20-35% protein, dan ini sudah sesuai dengan kebutuhan harian ikan lele. Sehingga aplikasi ikan runcah untuk pembesaran ikan lele sangat cocok (applicable) di wilayah pesisir, mengingat ketersediaan bahan baku lokal yang masih fresh." Jelas Hendri yang didampingi anggota tim lainnya Ir. Zuriat, M.Si dan Eri Safutra, MP.

Menurutnya, kegiatan Pengabdia masyarakat ini melibatkan keikutsertaan mahasiswa sebagai fasilitator kegiatan dan juga peserta. Tujuannya, agar mereka juga terbiasa dengan kegiatan kemasyarakatan serta dapat mengaplikasikan pemanfaatan Iptek yang tepat guna membantu penyelesaian masalah ditengah masyarakat.

"Harapannya kegiatan-kegiatan semacam ini akan terus dapat dilaksanakan guna meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta edukasi yang tepat di masyarakat perihal optimalisasi Iptek selama masa pandemik yang kita harapkan dapat segera berakhir ke situasi normal kembali." Pungkas Hendri. (Aduwina Pakeh)

Komentar :

Lainnya :