Menulis Opini, Ekspresi Diri Lewat Tulisan
  • Prodi Sosiologi
  • 05. 08. 2020
  • 0
  • 704

Oleh : Aduwina Pakeh, S.Sos., M.Sc*

Hampir semua media (cetak dan online) menyediakan rubrik opini, termasuk di website prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - Universitas Teuku Umar, yaitu http://sosiologi.utu.ac.id/. Melalui rubrik ini, para Dosen prodi Sosiologi bisa menyampaikan gagasannya dan beradu argumentasi tentang suatu hal. Misalnya tentang masalah sosial, politik, ekonomi, agama, pertanian, kesehatan, dan sebagainya.

Namun tulisan kali ini bersifat umum dan ditujukan kepada para pemula seperti saya sendiri dan rekan-rekan yang berminat untuk menulis. Bukan bermaksud menggurui namun hanya sebagai sharing dan saling memotivasi satu sama lain.

Menulis opini sebenarnya mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja, terlebih di zaman digital ini yang memungkinkan semua orang menulis opini di berbagai platform laman jaringan media sosial seperti facebook, IG dll.

Suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang penulis, apabila tulisan opininya menembus media massa besar sekaliber TEMPO, KUMPARAN, KOMPAS, Serambi Indonesia dan lain-lain. Sebab, itu menjadi bukti otentik atas kemampuan intelektual seorang penulis. Apalagi idenya berhasil menyingkirkan puluhan pemikiran lain. Opini dengan gagasan aktual dan argumentatif yang kuatlah yang berhak mengisi kolom opini harian terkemuka di Negeri ini.

Penulis opini juga dapat memasarkan gagasannya melalui blog seperti Indonesiana, kompasiana dan lain-lain serta dapat memviralkannya melalui media sosial semacam facebook, instagram dan twitter.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau menulis atau tidak? Jika mau, maka sejumlah kelemahan yang dimiliki pada seorang penulis perlahan namun pasti akan menemukan pola dan struktur tulisan yang baik, ala bisa karena biasa. Namun jika jawabannya tidak mau, maka sejumlah alasan penguat akan terus bermunculan dan kemampuan diri tidak pernah terukur.

Seorang aktor terkenalpun memulai karir profesionalnya melewati banyak kesalahan dan tantangan, bahkan meskipun dia seorang multitalent, scene dalam filmnya tetap terjadi kesalahan yang perlu diulang untuk perbaikan. Seorang Messi, pesepakbola terkenal sejagat asal Argentina tetap melakukan latihan fisik sebelum melakoni laga, itu artinya sehebat apapun dia bermain tetap harus ikut program pelatihan menjelang tanding yang sebenarnya. Begitupun bagi seorang penulis, sehebat apapun kemampuan menulisnya tetap ada kata atau paragraf yang disempurnakan kemudian.

Dalam menulis, kadangkala kita seringkali terbelenggu dengan perasaan malu jika tulisan kita dibaca oleh orang lain atau pemikiran bahwa tulisan kita tidak menarik untuk dibaca. Selain itu tidak adanya ide juga acapkali dijadikan alasan untuk tidak menulis. Sebenarnya hal itu bukanlah masalah yang berarti bagi kita, setiap pemula pasti merasakan hal demikian, namun rasa malu dan tidak percaya diri itu bisa dikurangi dengan cara membiasakan diri membaca karya atau tulisan orang lain. Kita bisa mengukur persepsi atau pandangan orang lain terhadap tulisan kita dengan cara membaca dan memberi sedikit argumentasi terkait tulisan orang lain.

Zaman sekarang sangat mudah untuk memulai menulis opini atau karya bebas lainnya. Kita bisa memulainya dengan membaca tulisan orang lain, dari itu kita akan menemukan gagasan baru. Era digital dengan akses internet dan jangkauan sosial media yang semakin meluas, memberi kesempatan kepada kita untuk bisa terhubung dengan orang lain secara mudah. Kondisi ini dapat memberi peluang besar bagi kita untuk menulis serta membagikan tulisan kita kepada teman-teman lainnya. Tulisan kita dapat dibaca oleh lebih banyak orang dan dapat tersebar luas dengan cepat tanpa harus memusingkan bagaimana cara untuk mempromosikan tulisan kita.

Tulisan adalah sebuah kekuatan. Melalui tulisan, kita dapat menyampaikan informasi penting kepada khalayak ramai, membentuk opini publik, menginspirasi orang lain, serta menyampaikan hal-hal yang tidak bisa disampaikan secara lisan.

Saya bukanlah orang yang pandai dalam hal menulis, namun saya terus berusaha menulis sesuatu apa yang saya fikirkan dan saya memiliki keyakinan apa yang saya fikirkan juga banyak difikirkan oleh orang lain. Apa yang saya tulis ini pun sudah banyak orang lain menuliskannya namun dengan gaya yang berbeda. Tujuan sederhana saya adalah mengekpresikan kemampuan diri dan berharap mendapat dukungan dan masukan dari para senior dan guru yang telah ahli dalam merangkai kata-kata.

Jika anda perhatikan, tulisan saya ini tidak teratur, belum runut dan belum fokus pada satu subjek pembahasan. Saya akui hal itu, karena saya ini masih pemula dalam bidang menulis. Sebagaimana semangat yang saya sampaikan diatas, saya memberanikan diri menulis walaupun tulisan saya belum banyak peminatnya untuk membaca apalagi memberikan komentar dukungan. Karena tujuan uamanya adalah untuk belajar dan mengasah kemampuan menulis maka akan terus saya lakukan hingga kedepan bisa menembus kolom opini media massa besar, sambil berharap ada guru yang bersedia membimbing kearah demikian.

Seperti yang saya sampaikan diatas, saya bukanlah seorang yang ahli dalam menulis, namun di sini saya akan berbagi tips menulis itu mudah. Tips ini saya kutip seutuhnya dari tulisan mas Aidil Khairunsyah yang tayang di m.kumparan.com pada 29 April 2018 dengan judul "Menulis Itu (Tidak) Mudah". Harapannya tulisan ini dapat menginspirasi teman-teman pembaca bahwa menulis itu ternyata mudah. Adapun tipsnya adalah sebagai berikut:

1. Mulailah menulis dari pengalaman pribadi Anda

Jika Anda tidak mempunyai ide untuk menulis, hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah menuangkan pengalaman pribadi Anda dalam bentuk tulisan. Pengalaman sewaktu kecil, pengalaman cinta pertama, ataupun pengalaman yang baru saja Anda alami dapat menjadi bahan untuk tulisan Anda.

Janganlah khawatir dengan anggapan bahwa pengalaman pribadi Anda tidak menarik. Pengalaman sekecil apapun dapat menjadi sebuah kisah yang menarik dan dapat menginspirasi orang lain.

2. Lakukan koreksi dan editing setelah Anda selesai menulis

Dalam menulis seringkali kita terhambat dengan rasa “gatal” untuk mengoreksi kalimat atau paragraf sebelumnya. Jangan hiraukan rasa “gatal” tersebut dan menulislah dengan cepat hingga tulisan Anda selesai. Jangan pedulikan jika ada kesalahan ketik, kalimat yang tidak sempurna, argumentasi yang kurang kuat, atau pilihan kata yang tidak tepat. Biarkan ide Anda mengalir deras dan tuangkan ke dalam tulisan meskipun belum beraturan.

Koreksi dan editing dapat Anda lakukan setelah Anda selesai menulis. Meminta bantuan teman dekat Anda untuk melakukan koreksi juga dapat menjadi alternatif cara yang efektif.

3. Biasakan menulis 1 halaman per hari

Jadikan menulis kebiasaan dalam kegiatan keseharian Anda dan jangan menunggu ide menulis untuk menghampiri Anda. Luangkan waktu senggang Anda untuk menulis paling tidak 1 halaman per hari. Dengan menjadikan menulis sebuah rutinitas, Anda akan terbiasa untuk membuat sebuah tulisan.

Penulis terkenal Indonesia, Kuntowijoyo, pernah mengatakan bahwa “Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, dan menulis.”

4. Tingkatkan sensitivitas terhadap keadaan dan kejadian di sekitar Anda

Kita seringkali mengabaikan apa yang terjadi di sekitar kita, namun tanpa kita sadari hal-hal yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi bahan atau ide untuk kita menulis. Mulailah membiasakan diri kita untuk memperhatikan hal-hal kecil di sekitar kita.

Pernakah Anda bertanya ada cerita apakah di balik sebuah makanan yang kita beli dari penjual makanan yang sering mangkal di depan rumah kita. Atau bagaimanakah perjuangan hidup seorang pengemudi ojek online yang sering kita tumpangi setiap hari ketika berangkat kerja. Hal-hal tersebut dapat menjadi bahan atau ide untuk tulisan Anda.

Itulah 4 tips yang saya bagi dengan teman-teman pembaca. Semoga apa yang telah saya sampaikan dalam tulisan ini dapat menginspirasi teman-teman pembaca untuk menulis karena sesungguhnya menulis itu mudah.

Disini, saya mengajak teman-teman pembaca untuk berbagi pengalaman melalui tulisan, saya yakin sebahagian pengalaman hidup teman-teman akan akan menjadi inspirasi bagi yang lainnya jika dikemas dalam bentuk tulisan. Di akhir tulisan ini saya sedikit memberi motivasi kepada rekan-rekan penulis pemula. "Kesalahan yang anda lakukan dalam tulisan anda akan dimaklumi dan dimaafkan oleh pembaca karena anda adalah pemula, mulailah menulis bukan untuk mendapat pujian dari orang lain, akan tetapi menulislah untuk menghargai kemampuan yang anda miliki."

Selamat menulis!.

*Penulis adalah Dosen Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Teuku Umar (UTU).

Komentar :

Lainnya :