Aceh Darurat Covid-19, Jam Malam Perlu Diberlakukan Lagi?
  • Prodi Sosiologi
  • 01. 08. 2020
  • 0
  • 844

Oleh : Aduwina Pakeh, S.Sos., M.Sc*

Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19) atau juga disebut Virus Corona seperti tidak kunjung tuntas. Jika tidak diseriusi oleh kita semua, penyebaran Covid-19 terus terjadi. Himbauan pemerintah untuk mengikuti protokol kesehatan seperti jaga jarak aman, cuci tangan pakai sabun, pakai masker dan jika berpergian harus mengantongi surat bebas Covid-19.

Sepertinya masyarakat luas sudah mulai jenuh dengan isu Covid-19. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang seperti memberi ruang untuk masyarakat bekerja dan berada diluar rumah. Padahal pada bulan-bulan pertama penyebaran Covid-19, kewaspadaan masyarakat cukup tinggi, terbukti stok masker sampai kosong diberbagai pusat pembelanjaan, kegiatan keramaian ditiadakan dan pemerintah sangat gencar mengkampanyekan #StayatHome atau menetap dirumah atau dirumah saja.

Namun belakangan ini setelah dikeluarkannya kebijakan New Normal atau adaptasi kebiasaan baru menuju masyarakat produktif dan aman Covid-19 Tanggal 24 Juni 2020 dan Pemerintah secara resmi mulai tanggal 22 Juli 2020 tidak mengumumkan update data terbaru harian tentang Covid-19. Sebelumnya sejak 3 Maret 2020 hingga 21 Juli 2020 (140 hari) Achmad Yurianto yang ditunjuk sebagai Juru bicara Pemerintah untuk penanganan COVID-19 setiap hari Pukul 15.30 WIB memberikan edukasi mengenai protokol kesehatan serta data terkini kasus Covid-19 yang disiarkan lewat akun YouTube BNPB dan disebarluaskan oleh media-media pemerintah seperti TVRI dan media swasta. Perubahan itu merujuk pada terbitnya Peraturan Presiden 82/2020 tentang Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, menggantikan Keppres Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Covid-19.

Kitapun menyadari, pemerintah dalam menentukan kebijakan seperti itu pasti sudah memperhitungkannya secara matang. Berbagai skenario tersebut dilakukan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari resesi ekonomi. Jika rakyat tidak produktif dikhawatirkan akan terjadi krisis berkepanjangan yang membuat negara terancam, untuk itu diperlukan kesadaran bersama untuk mentaati protokol kesehatan, agar ancaman Covid-19 segera berakhir.

Berdasarkan update data perkembangan tim pencegahan Covid-19 Provinsi Aceh, dalam beberapa hari terakhir kasus terkonfirmasi positif Covid-19 meningkat tajam. Jumat (31/7/2020), bertepatan dengan hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah, kasus Covid-19 di Aceh terkonfirmasi 103 orang positif. Angka ini merupakan rekor tertinggi di Aceh sejak medio Maret lalu mengalahkan rekor sebelumnya 74 Kasus (30/7), 45 kasus (29/7). Sebelumnya lagi pernah 27 kasus (15/7)), 22 kasus (28/7)), dan 13 kasus dalam satu hari tiga pekan lalu.

Informasi tentang bertambahnya 103 kasus Covid-19 tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif dan disiarkan oleh serambinews.com. Mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan swab berbasis real time polymerase chain reaction (RT-PCR) di dua tempat yakni di Laboratorium Balitbangkes Aceh yang berlokasi di Gampong Bada, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar dan di Laboratorium Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Sehingga total kasus Covid-19 di Aceh sebanyak 415 orang terkonfirmasi, 91 orang dinyatakan sembuh dan 12 orang meninggal dunia. Sementara total kasus Covid-19 di Indonesia per Jum'at (31/7/2020) sebanyak 108 ribu orang terkonfirmasi, 65.907 kasus dinyatakan sembuh dan 5.131 orang meninggal dunia.

Persebaran kasus positif Covid-19 di Aceh hampir merata di berbagai Kabupaten/kota, namun yang paling dominan adalah Kota Banda Aceh yang merupakan Ibu kota Provinsi Aceh. Sementara Kabupaten/Kota lainnya yang warganya terpapar Covid-19 adalah Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Selatan, Bireun, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Kota Lhokseumawe, Aceh Tengah, Aceh Barat, Kota Langsa, Pidie dan Simeulue.

Khusus untuk Aceh Barat, 4 orang terkonfirmasi Covid-19 merupakan warga Jakarta Selatan yang mudik lebaran ke Aceh Barat. Setelah dilakukan rapid tes terkonfirmasi reaktif, kemudian dilakukan uji swab dan hasilnya satu keluarga tersebut positif Covid-19. Terendus khabar, jika pasien positif Covid-19 tersebut enggan untuk dirujuk ke RSUZA dan hal itu membuat kesulitan bagi gugus tugas Covid-19 Aceh Barat untuk melakukan tracing warga lainnya yang pernah berinteraksi dengan pasien. Atas kejadian tersebut membuat masyarakat gampong Gunong Kleng merasa resah.

Ini merupakan peringatan dini bagi masyarakat Aceh Barat dan Aceh pada umumnya. Wabah yang berasal dari Wuhan-China akhir tahun 2019 itu kini sudah menyebar hingga di hampir seluruh Kabupaten/Kota di Aceh. Segala upaya pencegahan, penanganan hingga menghabiskan anggaran puluhan miliyar. Bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), Dana Desa (DD) maupun APBA dan APBK telah dilakukan. Seharusnya saat inilah kita harus lebih meningkatkan kewaspadaan diri dibandingkan periode awal yang jumlah kasus dan sebarannya di Aceh masih terbatas.

Covid-19 menyebar tidak mengenal siapapun dan latarbelakangnya, masyarakat biasa, lingkungan pejabat pemerintahan sampai petugas tenaga medis/lapangan. lalu siapa yang kita salahkan?. Pencegahan Covid-19 menjadi tanggungjawab kita bersama. Tidak bisa kita saling menyalahkan terkecuali virus itu belum tersebar dilingkungan masing-masing. Penyebaran virus begitu cepat, apalagi ditambah tingkat kesadaran masyarakat kurang sehingga hal tidak diinginkan bisa menjadi kenyataan.

Atas melonjaknya kasus positif di Aceh dalam beberapa hari terakhir, saya pikir pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota bisa kembali memberlakukan JAM MALAM. Meskipun akan ada sebahagian masyarakat yang menentang kebijakan itu, tetapi untuk kemaslahatan ummat rasanya kebijakan itu perlu dilakukan. Pemberlakuan jam malam akan memberi efek kesiagaan tinggi di tengah masyarakat dan juga kampanyenya lebih cepat sampai di masyarakat. Dalam pandangan masyarakata Aceh, jika kebijakan Jam Malam diberlakukan maka sesuatu yang darurat sedang terjadi.

Sejak dimulainya wabah Covid-19 melanda Aceh, baru kali ini angka positif melonjak tajam dalam sehari bisa mencapai angka 100 orang. Padahal sebelumnya Aceh termasuk salah satu Provinsi yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Pusat atas keberhasilan menekan penyebaran Covid-19 lewat berbagai kebijakannya. Sementara jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu, kasus saat ini benar-benar masuk kategori darurat. Perlu strategi khusus dan berani dari pemerintah Aceh untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Wilayah Barat Selatan dan Tengah Aceh dalam beberapa hari ini kasusnya naik tajam, Aceh Barat dari 0 kasus, langsung 4 kasus, Nagan Raya terdapat kasus positif Covid-19 meninggal Dunia, Aceh Barat Daya meningkat belasan orang dalam sehari, begitupun dengan Aceh Selatan. Kabupaten Simeulu juga sama, bahkan ada satu kasus pasien Covid-19 yang meninggal dunia namun dikebumikan tidak secara protokol kesehatan, disinyalir adanya mis komunikasi antar rumahsakit. Wilayah tengaj juga sama, Aceh Tengah, Bener Meriah angka positif Covid-19 terus naik.

Maka atas benyaknya kasus positif yang terkonfirmasi, marilah kita saling menguatkan, saling mendoakan agar saudara-saudara, kakak, adik kita yang sekarang divonis menjadi pasien positif Covid-19 diberikan ketabahan, kekuatan dan secepatnya bisa sembuh dan dinyatakan sehat kembali. Amiin.

Penulis adalah Dosen di Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Teuku Umar (UTU).

Komentar :

Lainnya :